KEPEMIMPINAN LATERAL
Oleh : Kaswadi Yudha Pamungkas, S.IP, M.Si

By Muharrir Mukhlis 27 Sep 2023, 16:05:40 WIB Artikel
KEPEMIMPINAN LATERAL

Agaknya para pemimpin perlu mencari cara-cara baru, khususnya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan. Mereka perlu memilih dan menerapkan cara berbeda dan lebih baik untuk memenuhi tujuan perusahaan. Selain mempertahankan kelangsungan bisnis saat ini, mereka juga harus mulai berani mengambil inisiatif baru, meskipun dihadapkan pada risiko kegagalan, atau sebaliknya menuai sukses besar. Tak ayal lagi, mereka harus mendorong dan memberdayakan potensi SDM mereka untuk mengambil pendekatan kewirausahaan dan kreativitas dalam mengeksploatasi sejumlah peluang bisnis baru, dengan memanfaatkan kekuatan kreatif dari aset SDM yang dimiliki. Mereka senantiasa akan dituntut untuk mencari cara terbaik dalam menciptakan nilai dan melakukan inovasi, sekaligus menyelaraskan energi kreatif SDM yang mereka miliki guna memenangkan persaingan. Tugas mendesak mereka adalah bagaimana dapat mengerahkan semua kemampuan SDM mereka menjadi pekerja yang lebih kreatif ? Bagaimana mengubah cara berpikir SDM mereka agar mampu melihat suatu masalah dengan cara yang berbeda, tidak hanya melihat sisi hambatan semata, melainkan jeli melihat peluang dan/atau kesempatan untuk melakukan inovasi dan meraih sukses? Bagaimana pemimpin dapat menginspirasi dan memotivasi orang di sekitarnya agar menjadi lebih kreatif? Bagaimana mengubah organisasi menjadi pembangkit energi inovatif?

Para pemimpin lateral adalah mereka yang dapat menciptakan iklim kreativitas yang mampu mengilhami orang di sekeliling mereka agar memiliki kepercayaan diri untuk mengambil risiko, dan pada gilirannya dapat mengembangkan keterampilan mereka melalui kreativitas. Para pemimpin lateral harus pandai melukiskan visi organisasi mereka, dan sekaligus piawai dalam berkomunikasi serta pandai menetapkan tujuan dan sasaran dari visi mereka. Disamping itu, mereka harus pandai menciptakan budaya bisnis yang lebih terbuka dan dinamik dengan menyerap ide-ide baru. Mereka harus mampu menetapkan struktur dan kebijakan agar proses inovasi dapat berjalan pada organisasi sebagaimana aliran darah pada pembuluhnya. Diantara langkah umum yang biasa ditempuh adalah:

1. Menjabarkan visi yang mampu menginspirasi;

2. Menciptakan budaya keterbukaan untuk bertanya dan bertukar pendapat;

3. Memberdayakan para pekerja pada semua tingkatan organisasi;

4. Menggunakan teknik kreativitas untuk menghasilkan sejumlah gagasan atau ide; dan

6. Melakukan review, memilih dan memilah serta menggabungkan sejumlah ide.

Tidak semua pemimpin mampu melakukan terobosan untuk keluar dari suatu masalah. Kebanyakan dari mereka bersandar pada pengalaman masa lalu untuk memecahkan suatu masalah. Mereka seolah mampu belajar berjalan dari A ke B, namun ketika harus melangkah dari B ke C ternyata banyak menemukan kesulitan. Tentu mereka mencoba untuk berjalan lebih cepat, bekerja dengan lebih keras dan berupaya meningkatkan efisiensi, namun mereka masih belum kunjung menemukan cara yang terbaik. Karena disamping bekerja dengan lebih keras, mereka juga harus bekerja dengan lebih pintar. Ada berbagai cara yang lebih baik untuk berjalan dari B ke C selain berjalan kaki: yakni bisa dengan bersepeda, berkuda, mengendarai mobil atau bahkan menggunakan pesawat terbang. Banyak organisasi terjebak pada modus standar operasi mereka. Menurut pakar manajemen, Gary Hamel, “banyak perusahaan yang tahu bagaimana untuk mendapatkan cara yang lebih baik, akan tetapi jarang dari mereka yang tahu bagaimana cara untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda”. Sehingga menurut Andy Grove "hanya mereka pengidap paranoid yang mampu bertahan hidup”, demikian seloroh direktur Intel, sebagai perusahaan yang mendominasi bisnis prosesor komputer. Menurut Grove “anda harus bersikap paranoid untuk meningkatkan barang dan jasa yang anda tawarkan pada pelanggan anda, karena jika tidak demikian maka orang lain yang akan melakukannya”. Yang dimaksud oleh filosofi Grove tersebut adalah bagaimana mengkritisi bisnis sendiri agar dapat memperkenalkan prosesor yang lebih inovatif ke pasar guna menggantikan para pemimpin pasar. Sebagaimana pendekatan yang dilakukan oleh perusahaan Gillette, yang memiliki kebijakan membuat produk sendiri menjadi usang untuk digantikan dengan produk baru. Seperti juga Gillette, intel akan segera meluncurkan produk baru untuk menggantikan produk lama, tanpa harus menunggu produk mereka menjadi usang. Para pemimpin seperti Grove akan memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk memulai dan mengarahkan suatu perubahan dalam organisasi mereka, disamping menjaga tujuan reguler mereka. Semua pekerja memiliki tanggung jawab bersama untuk mengubah organisasi dan membuatnya lebih siap untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dengan senantiasa menemukan cara-cara inovatif untuk memperkenalkan barang atau jasa baru. Para direktur pemasaran harus menciptakan cara-cara baru untuk mempromosikan produk, demikian juga para manajer penjualan harus mencari pendekatan baru guna menjangkau pelanggan dan memotivasi mitra dan jaringan mereka. Begitu pula para direktur SDM harus menemukan cara kreatif untuk menarik dan mempertahankan SDM terbaik mereka. Memimpin dengan cara konvensional tentu masih diperlukan, ketika kendali tugas perlu diarahkan melalui garis komando dalam suatu alur proses yang jelas. Namun dalam suatu perubahan yang cepat maka pemimpin lateral yang akan lebih siap. Pemimpin lateral akan mampu memfokuskan diri untuk melakukan pengembangan keterampilan tim kerja, yaitu daya kreativitas dan inovasinya, disamping keberanian untuk mengambil risiko dan kesiapan mental kewirausahaannya. Mungkin belum hilang dalam ingatan kita, ketika pada akhir tahun 1970-an industri jam Swiss nyaris menghadapi kepunahan. Mereka harus bersaing sengit dengan produksi massal dan murah dari industri Jepang, yang meluncurkan produk jam elektronik berkualitas yang mampu mengusir Omega, Longines dan Tissot keluar dari kancah bisnis. Namun Nicholas Hayek tidak tinggal diam, ia menyusun rencana yang melibatkan penggabungan dua merek jam Swiss terbesar dengan membentuk sebuah perusahaan baru namun dengan pendekatan bisnis yang berbeda. Nicholas Hayek mampu memproduksi jam dengan biaya rendah namun berteknologi tinggi, tanpa mengenyampingkan nilai artistik dan keindahan yang enak dipandang. Dalam waktu lima tahun perusahaan yang dibuat Nicholas Hayek tersebut telah menjadi pembuat jam terbesar di dunia. Hayek berhasil menciptakan jam tangan yang canggih, modis dan artistik yang tetap mampu meningkatkan kebanggaan status dan identitas pemakainya.

Suatu perubahan mampu menggerakkan suatu kondisi ke kondisi yang lain, akan tetapi suatu perubahan belum tentu merupakan inovasi. Inovasi adalah membawa sesuatu yang baru menjadi ada. Namun suatu organisasi yang kreatif belum tentu inovatif. Kreativitas adalah kemampuan atau bakat untuk mencipta, dan hal ini lebih tentang bagaimana menghasilkan ide-ide. Sedangkan Inovasi adalah tentang bagaimana mengambil dan menerapkan ide-ide kreatif menjadi wujud yang nyata. Inovasi tidak hanya merilis produk baru semata, akan tetapi juga mencakup menjalankan suatu proses bisnis baru, membuat cara yang lebih segar dalam melakukan sesuatu, melakukan aliansi yang radikal, dan menciptakan strategi bisnis dan rute baru menuju pasar.

Dengan demikian, kreativitas harus dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Adapun inovasi merupakan realisasi dari sebuah ide. Suatu kreativitas tak terkendali tanpa disiplin atau proses inovasi dapat membahayakan suatu organisasi. Dengan demikian, suatu kreativitas perlu difokuskan pada tujuan organisasi dan berfungsi sebagai pipa saluran ke proses inovasi. Dengan kata lain, inovasi berarti mengambil ide yang paling menjanjikan dan menguji ide tersebut untuk dapat diwujudkan menjadi nyata. Tidak semua upaya inovatif berhasil, tentu saja banyak yang mengalami kegagalan dengan berbagai alasan. Meskipun kegagalan banyak ditemui sepanjang jalan, namun orang atau organisasi yang gigih dalam mencari cara-cara baru, pada akhirnya dapat mencapai tujuan mereka.

Berpikir kreatif adalah istilah umum untuk menggambarkan pendekatan apapun yang bersifat baru. Sedangkan berpikir lateral adalah istilah yang diciptakan oleh Edward de Bono untuk menggambarkan serangkaian pendekatan dan teknik yang dirancang untuk menemukan pendekatan baru yang radikal guna memecahkan suatu masalah yang tengah dihadapi. Sebagai ilustrasi, pada awal abad ke-20 hampir semua toko menyediakan pelayan untuk membantu para pelanggan dalam berbelanja. Para pelanggan sudah terbiasa dibantu para pelayan untuk menemukan dan memperoleh sejumlah barang yang diperlukannya, dengan filosofi pelanggan adalah raja. Namun pada tahun 1920 seorang pria bernama Michael Cullen menemukan cara pandang yang berbeda mengenai konsep toko dan pelanggan. Michael Cullen mulai dengan pertanyaan, "Apa yang akan terjadi jika pelanggan dibiarkan membantu diri mereka sendiri untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan dan membayar di akhir belanja ? Tentu saja gagasan ini sempat mengundang keberatan dan perdebatan, karena masih banyak yang berasumsi bahwa pelanggan ingin dilayani, dan mereka akan merasa terbebani jika mereka melakukan semua pekerjaannya sendiri. Disamping itu, setiap barang ada harganya, dan para pelanggan akan bingung jika tidak ada pelayan untuk membantu mereka. Dan sejumlah pertanyaan lain yang tak kunjung habisnya. Namun Michael Cullen bertahan dan menciptakan supermarket atau swalayan pertama di dunia, dengan nama: The King Cullen Store di New Jersey. Gagasan Michael Cullen tidak hanya telah mengubah layout toko semata akan tetapi juga telah mengubah layout suatu kota. Yang tadinya jalan-jalan utama dipenuhi maraknya toko-toko kecil kemudian berganti menjadi superstore swalayan besar, yang juga telah mengubah tata ruang dan ruas jalan kota. Dalam hal ini Michael Cullen telah melakukan berpikir lateral. Dia telah menunjukkan kepemimpinan lateralis dengan menggagas suatu embrio perubahan yang sama sekali baru. Perbedaan antara berpikir kreatif dan berpikir lateral adalah terletak pada perbedaan antara memperkenalkan jenis toko baru dan memperkenalkan pendekatan baru yang menyeluruh dalam cara pelanggan berbelanja, melalui konsep supermarket. Para pemimpin lateral adalah mereka yang menggunakan ide kreatif dan konsep berpikir lateral untuk mengubah organisasi sebagai sumber semangat kewirausahaan yang dipenuhi ide-ide baru. Para pemimpin lateral adalah mereka yang mampu menginspirasi dan sekaligus melatih tim mereka menjadi suatu kekuatan kreatif untuk mencapai tujuan organisasi, dan menemukan solusi terobosan yang belum terfikirkan sebelumnya. Dalam hal ini para pemimpin seyogyanya mampu berpikir secara berbeda dan menggunakan pendekatan segar dalam memecahkan masalah.

Harus diakui, para pemimpin konvensional akan lebih mudah berorientasi pada tujuan, dapat menentukan orang yang paling cocok untuk lingkungan yang terstruktur seperti korporasi yang mapan, institusi pemerintah dan/atau militer. Sedangkan pada sisi yang lain, para pemimpin lateral akan mampu mengadopsi pendekatan yang berbeda untuk mencapai suatu tujuan, dan mereka jauh lebih fokus pada kreativitas dan inovasi tim kerja. Para pemimpin lateral sering ditemukan pada organisasi skala kecil dengan teknologi tinggi, yang mampu bergerak dengan cepat dengan modal lingkungan kolegial dan intelektual. Para pemimpin konvensional mungkin lebih berfokus pada tindakan, hasil, efisiensi dan peningkatan proses. Sebaliknya para pemimpin lateral lebih berfokus pada menginspirasi tim kerja, sekaligus menemukan cara-cara baru dan lebih baik dalam melakukan sesuatu. Para pemimpin yang sukses mampu menggabungkan kualitas dari tipe kepemimpinan konvensional dan kepemimpin lateral. Mereka tahu kapan harus fokus pada efisiensi dan hasil, serta kapan harus lebih fokus pada visi, pembinaan dan tugas menginspirasi tim kerja. Analisis, hasil, efisiensi, kontrol dan garis komando adalah cara kerja yang sudah mendarah daging pada para manajer konvensional. Namun disaat tantangan organisasi berubah, yang lebih menuntut kemampuan berpikir lateral, maka mereka perlu melonggarkan beberapa cengkeraman yang terlalu bertumpu pada analisis yang detail. Bagaimanapun, mereka harus lebih berani mendelegasikan tugas dengan lebih fokus pada pemberdayaan tim kerja guna menemukan cara-cara inovatif untuk membuat visi menjadi kenyataan. Namun demikian terdapat risiko yang nyata, bahwa para pemimpin potensial yang memiliki energi kreatif yang besar dapat merasa terhambat oleh sekat organisasi yang terlalu prosedural dan birokratis, sehingga dengan berbagai hambatan yang dirasakannya dapat melemahkan semangat inovatif mereka. Suatu model bisnis konvensional akan mempromosikan orang-orang yang harus patuh pada standar operasi perusahaan, maka pemimpin yang dihasilkan adalah jenis pemimpin yang efisien dan pekerja keras yang beroperasi pada zona nyaman perusahaan. Namun CEO saat ini lebih membutuhkan visi dan imajinasi, dan sekaligus keberanian untuk memimpin organisasi menuju wilayah baru dan relatif penuh risiko. Para pemimpin saat ini harus menjadi pendorong kewirausahaan yang dapat menginspirasi tim kerja agar berani menjelajah wilayah baru yang belum terpetakan. Hal ini membutuhkan tipe kepemimpinan lateral, tanpa mengabaikan kepemimpinan konvensional. Pertanyaannya kemudian, apakah pemimpin lateral itu dilahirkan atau diciptakan? Dapatkah para pemimpin konvensional dibekali sifat-sifat pemimpin lateral? Dapatkah kreativitas dipupuk pada setiap orang atau hanya orang dengan bakat alami saja yang memiliki potensi kreativitas? Jawabannya adalah bahwa memang ada beberapa orang yang secara alami memiliki bakat kepemimpinan kreatif, namun hampir pada diri semua orang memiliki potensi kemampuan kreatif untuk dapat dikembangkan. Artinya, pada diri semua orang terdapat kemampuan mempelajari teknik-teknik untuk menghasilkan lebih banyak ide kreatif. Dengan demikian, para manajer dapat belajar menerapkan ciri-ciri dan prinsip-prinsip kepemimpinan lateral, terutama jika mereka mencita-citakan untuk menempati posisi yang lebih senior dalam hirarki organisasi.

Untuk mengubah para pekerja menjadi wirausahawan yang dahaga mencari peluang baru, maka pertama kali yang harus diberdayakan adalah kekuatan tim kerja kita sendiri. Tujuan utama dari pemberdayaan adalah memungkinkan tim kerja kita untuk mencapai perubahan melalui usaha mereka sendiri. Tentunya suatu tim kerja membutuhkan tujuan yang jelas sehingga mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka, sehingga merekapun tahu keterampilan apa yang diperlukan untuk menjalankan tugas mereka. Mereka juga perlu menyadari kontribusi mereka pada tim lintas departemen, sehingga mereka juga menyadari sebagai bagian dari keseluruhan tim kerja yang turut memberikan solusi pada organisasi sebagai suatu keseluruhan. Suatu tim kerja membutuhkan keleluasaan untuk berhasil. Dengan demikian, lingkup kebebasan dan tanggung jawab mereka harus disepakati. Mereka juga membutuhkan pelatihan, pembinaan, penguatan dan dorongan. Dan diatas segalanya, pemberdayaan juga mengandung arti memberi kepercayaan. Suatu kepercayaan akan diterjemahkan oleh tim kerja sebagai bentuk dukungan dan dorongan keyakinan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar. Setiap orang memiliki percikan kreativitas di dalam dirinya. Adalah tugas dari para pemimpin untuk menginspirasi dan menyalakan percikan tersebut. Demikian pula, orang harus tahu di mana mereka berdiri dan mereka juga harus tahu bahwa para pemimpin akan menghormati komitmen mereka. Jika para pemimpin telah memberikan kebebasan untuk membuat keputusan sendiri, maka para pemimpin juga harus menerima konsekuensi jika terjadi suatu kesalahan. Sikap saling menyalahkan dan saling bersitegang dapat menghancurkan kepercayaan. Kepercayaan juga penting untuk menjaga jalur komunikasi yang aktif dan terbuka, mengatur strategi, mendiskusikan pendekatan, delegasi, kepercayaan dan berkomunikasi.

Banyak orang yang merasa cemas dengan terjadinya perubahan. Perubahan sering membuat orang menjadi tidak nyaman. Terutama, karena dari perubahan akan muncul pemenang dan pecundang. Sehingga wajar jika banyak orang akan lebih memilih untuk tetap berada pada zona nyaman ketimbang harus menaggung risiko malu atau bahkan terkena risiko kegagalan yang relatif mahal. Pemimpin lateral perlu mendorong tim kerja mereka untuk menempuh risiko, dan meyakinkan mereka bahwa menempuh risiko juga diperlukan. Ketakutan akan kegagalan sering menghambat orang untuk maju melangkah, dalam hal ini para pemimpin juga perlu menunjukkan bahwa tidak melakukan apapun adalah juga suatu risiko dan memilih tinggal di zona nyaman merupakan pilihan yang juga berisiko. Para pemimpin lateral perlu meyakinkan bahwa mereka tidak akan dihukum karena telah berani mengambil risiko, dan kegagalan lebih berharga ketimbang tidak pernah berani mengambil inisiatif untuk suatu keberhasilan.

Seringkali lebih mudah untuk mengambil agenda perubahan ketimbang berusaha untuk menjalaninya sampai selesai. Kita mungkin mempunyai niat yang baik, namun dalam perjalanan kita sering terganggu oleh kebimbangan dalam menempatkan prioritas, dan kebanyakan sudah terbiasa untuk memprioritaskan hal-hal yang dianggap mendesak dan perlu segera ditangani pada saat ini juga. Padahal suatu sukses dapat dicapai jika kita juga fokus pada apa yang penting tapi tidak mendesak. Misalnya tentang membangun hubungan baik untuk jangka panjang, mengembangkan budaya perusahaan, menjajaki peluang baru dan memimpin melalui perubahan jangka panjang. Oleh karena itu, para pemimpin harus tetap fokus pada visi mereka, harus tetap berpegang pada perubahan strategik yang akan dicapai, meskipun terlalu banyak tekanan dan godaan untuk menyalahi tujuan strategik mereka. Dengan demikian para pemimpin perlu membuat tujuan strategik jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Para pemimpin yang sukses mampu memastikan kapan suatu tugas mendesak selesai, dan kapan harus mendelegasikan tugas mendesak lainnya atau memprioritaskan tugas tersebut.

Para pemimpin lateral tidak pernah puas dengan kesuksesan, mereka akan terus mencari pengembangan bisnis dan menerapkan perubahan. Mereka dapat melakukan restruturisasi dan konsolidasi, atau mengubah budaya perusahaan agar menjadi lebih inovatif, atau menerapkan proses dan produk inovatif, sehingga perencanaan dan persiapan untuk perubahan adalah tetap penting. Sepintas mungkin perencanaan yang dilakukannya mirip dengan cara kerja pemimpin konvensional. Namun setiap aspek perubahan perlu diformulasikan kedalam suatu model. Begitu juga disamping terdapat rencana utama, terdapat juga rencana mundur, sehingga suatu perubahan tetap dapat terprediksi dan terkendali. Memang peluncuran Microsoft Windows merupakan sukses besar, namun dibalik itu telah dibuat 100 alternatif skenario untuk mengantisipasi semua hal yang bisa meleset dari rencana dan bagaimana hal demikian harus ditangani. Risiko harus diambil tetapi risiko tetap harus dihitung. Para pemimpin lateral akan bertemu dengan banyak rintangan, penundaan dan kesulitan di perjalanan, akan tetapi tekadnya untuk mencapai tujuan tidak pernah goyah. Dia akan selalu siap. Ketika salah satu rute diblokir, maka ia akan menemukan cara memutar yang efektif. Dia akan menggunakan keterampilan dan kreativitas mereka untuk mengatasi masalah tersebut.

Para pemimpin lateral juga akan berhati-hati menciptakan lingkungan yang tepat dan kondusif bagi pemberdayaan para pekerja mereka agar tetap memiliki jiwa kewirausahaan dan kreatif. Mereka harus dapat mengatur kondisi agar para pekerja dapat fokus bekerja dengan rasa santai, termotivasi dan terinspirasi. Ada berbagai cara untuk melakukan hal tersebut, tergantung pada budaya, gaya dan kondisi organisasi masing-masing. Para pekerja akan fokus dan sibuk bekerja pada lingkungan yang memudahkan komunikasi, bebas dari hambatan hirarki dan divisi. Secara umum orang berasumsi bahwa cara terbaik untuk membantu orang menjadi kreatif adalah menempatkan mereka di bawah tekanan. Namun hasil suatu penelitian menunjukkan hal berbeda, bahwa kreativitas dapat menurun di bawah tekanan waktu yang terlalu ketat. Mereka merasa berjalan diatas “treadmill” yang tidak mungkin untuk menjadi kreatif. Namun demikian, para pekerja juga dapat menjadi kreatif di bawah tekanan waktu, hanya jika para pemimpin bisa menginspirasi dan menanamkan pada diri mereka tentang 'misi penting' yang harus mereka emban. “ berperilakukah seperti Daud meskipun anda sudah menjadi Goliat”, begitu anjuran salah seorang CEO dari perusahaan sepatu Nike. Sebagaimana tim sepakbola yang mengemban misi nama harum bangsa dan negaranya, sehingga tim tersebut tidak ada pilihan lain kecuali harus menang. Dalam hal ini, para pemimpin lateral harus berbagi rasa yang kuat tentang tujuan yang hendak dicapai, dan upaya-upaya kreatif penting untuk dilakukan agar dapat dipetik hasilnya. Begitu juga mengurangi tekanan kerja belum menjamin lahirnya ide dan inovasi, karena mereka juga bisa kehilangan rasa urgensi. Namun kebanyakan para peneliti menemukan bahwa hasil terbaik dapat dicapai jika orang atau tim kerja memiliki tujuan yang realistik dan memiliki cukup waktu untuk mencapainya.

Last but not least, para pemimpin lateral sangat menekankan untuk menemukan solusi kreatif dalam meraih sukses. Mereka perlu membangun kreativitas ke dalam budaya organisasi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan teknik, metode, lokakarya, dorongan semangat dan menstimulasi ide-ide gila. Tujuannya adalah mencapai suatu metamorfosa dari sekelompok orang yang biasa bekerja rutin menjadi suatu tim kerja yang sangat berenergi untuk selalu mencari hal yang baru dan cara yang lebih baik untuk mewujudkan visi menjadi kenyataan. Perlu disadari, bahwa suatu tim kerja membutuhkan suatu pelatihan untuk mempelajari keterampilan dan mengembangkan kepercayaan diri untuk mencoba metode baru. Semua level dari organisasi perlu diberdayakan, memiliki tujuan yang jelas, dan diberi otoritas untuk menemukan cara terbaik dalam mencapai tujuan mereka. Masing-masing bisnis memiliki masalah berbeda. Setiap pemimpin harus membuat keputusan berdasarkan asumsi tentang apa yang sudah bekerja atau apa yang belum bekerja, sehingga mereka dituntut untuk mencari solusi kreatif terbaik. Gravitasi adalah fakta kehidupan. Boeing sebagai produsen pesawat terbesar di dunia telah melaporkan eksperimen anti gravitasi. Mereka menggunakan jasa seorang ilmuwan Rusia yang telah mengembangkan perangkat anti-gravitasi yang dapat mengubah abad teknologi dirgantara konvensional dengan merekayasa perangkat keras pesawat. Maka waktu yang akan membuktikan apakah ide tersebut merupakan terobosan besar atau harapan kosong semata, namun kita tetap harus mengagumi para ahli di Boeing yang siap untuk menantang asumsi dasar yang selama ini mereka pegang. Dengan demikian para pemimpin lateral senantiasa perlu mempertanyakan setiap aspek bisnis seolah-olah kita adalah konsultan atau seperti pekerja baru di hari pertama yang memasuki sebuah perusahaan. Jika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada orang-orang yang berbeda pada waktu yang berbeda, maka kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda pula. Ketika Sir Isaac Newton bertanya, "mengapa apel jatuh dari pohon? Semua orang pasti tertawa, karena hal demikian terjadi setiap hari. Namun Newton bertahan pada pertanyaannya “mengapa apel jatuh ke bumi, sementara bulan tidak? Dengan mempertajam dan memperdalam pertanyaannya Newton berhasil menemukan teori gravitasi. Jawaban-jawaban dari pertanyaan yang kita ajukan akan memberi petunjuk tentang suatu ide atau temuan baru. Salah satu keterampilan kreatif yang paling penting yang perlu dipelajari adalah penguasaan seni interogasi. Dengan modal seni interograsi kita dapat mempertanyakan segala sesuatu, baik itu asumsi aturan dan metode bisnis yang sudah lajim dianut. Dan atas dasar seni interogasi itulah, seorang pemimpin lateral dapat menumbuhkan iklim yang kondusif untuk mengembangkan budaya tim kerja yang lebih kreatif dan inovatif, melalui relasi dan komunikasi umpan balik yang konstruktif dan produktif. “Dalam suatu periode dimana kepemimpinan absen, mungkin suatu masyarakat masih bisa berdiri. Namun suatu kemajuan pesat dapat terjadi, ketika seorang pemimpin yang cakap dan berani, mengambil kesempatan untuk mengubah susuatu hal menjadi lebih baik” (Harry S. Truman).