QUO VADIS ASN CORPORATE UNIVERSITY
Oleh Setiawan Aswad Widyaisawara Ahli Madya BPSDM Prov. Sulsel

By Muharrir Mukhlis 05 Nov 2021, 16:24:05 WIB Artikel
QUO VADIS ASN CORPORATE UNIVERSITY

Beberapa waktu lalu melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 17/2020, Pemerintah Pusat merevisi beberapa pasal dan ayat pada PP No.11/2017 tentang Manajemen PNS. Diantaranya adalah pasal 203 yang mengatur tentang pengembangan kompetensi PNS. Dalam pasal tersebut, dikatakan bahwa pengembangan kompetensi bagi setiap PNS dilaksanakan melalui pendekatan sistem pembelajaran terintegrasi yang kemudian diistilahkan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) corporate university (corpu). Bagaimanakah seharusnya kita memahami istilah ini dan ke arah mana penerapannya dalam konteks sektor publik?  

Strategi pengembangan kompetensi

Sejatinya corpu bukanlah sebuah entitas pendidikan formal sebagaimana universitas. Tetapi corpu merupakan strategi pengembangan kompetensi pegawai dan organisasi yang telah lama dikenal di sektor swasta. Dalam eksekusinya, diperlukan kelembagaan dan ketatalaksanaan yang biasanya melekat pada struktur dan personil yang telah ada (ex-officio). Beberapa perusahaan terkenal menerapkan corpu. Misalnya General Electric, McDonald dan Shell di manca negara. Telkom, PLN, PT Semen Indonesia, dan Bank Mandiri di Indonesia.  Pada Sektor publik Indonesia, contohnya Government Internal Audit corpu Badan Pemeriksa Keuangan dan Learning Centre Kementerian Keuangan. Pilihan corpu menunjukkan adanya pergeseran paradigma pembangunan kompetensi personil dari pendekatan konvensional - pusat pendidikan dan pelatihan (pusdiklat). Keterbatasan pendekatan pembelajaran berkelanjutan dalam: mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan, terutama para ahli yang tersedia pada berbagai unit organisasi; menciptakan keragaman bentuk dan kegiatan pembelajaran – bukan hanya pelatihan klasikal di kelas; dan menyejajarkan dampak pembelajaran individual dengan kinerja maksimal organisasi, sering ditengarai sebagai penyebab pergeseran paradigma tersebut. Pertimbangan lainnya yakni kemampuan corpu dalam memfasilitasi aktualisasi organisasi pembelajaran dan pengelolaan pengetahuan (knowledge management) sebagai prasyarat terbangunnya kemampuan adaptif dan responsif individu dan organisasi dalam menjawab kebutuhan dan tuntutan lingkungan dinamis (Satrijono dkk, 2017).

Pada prakteknya, strategi apapun yang digunakan untuk mengakselerasi peningkatan kapasitas pegawai, ketidakhadiran/lemahnya aksentuasi aspek elan vital ASN corpu, menyebabkan pendekatan ini tidak bekerja secara efektif pada tataran operasional. Akibatnya strategi yang terdengar indah dan tuntas pada ranah konseptual, seakan menjadi fatamorgana dalam implementasinya.

Efektivitas penerapan ASN Corporate University

Pertama, sangat fundamental untuk mengintegrasikan manajemen kinerja, pengembangan karir dan proses pembelajaran ASN copru secara operasional dalam pelaksanaan tugas seorang ASN. Secara teoritis konseptual hal ini sudah tidak terbantahkan, tapi manifestasinya terkadang sangat lemah. Selain terbatasnya regulasi yang mendasari, juga pengaturannya yang tidak integratif (omnibus). Pun diatur, maka tidak memiliki insentif daya paksa karena absennya mekanisme penghargaan/sanksi. Contohnya, menjadikan pelatihan baik klasikal (tatap muka di kelas) maupun non klasikal (e-learning, coaching, mentoring dan seterusnya) sebagai sasaran kinerja wajib pegawai yang kemudian dikaitkan dengan pengurangan besaran tunjangan kinerja jika tidak terpenuhi, akan mendorong pegawai untuk mengikuti kegiatan pelatihan. Dilain pihak, pelatihan ini juga harus disyaratkan bagi pengembangan karir pegawai yang juga sudah dipolakan secara jelas.

Kedua, kepemilikan & komitmen struktural dan kultural harus diletakkan secara fundamental pada tingkat personal & kelembagaan. Pembangunan SDM biasanya ditumpuhkan sepenuhnya kepada lembaga diklat yang kemudian berjuang sendiri untuk memastikan pemenuhan target kualitas SDM. Rendahnya kepemilikan/komitmen unit kerja pemerintah sektoral lainnya terhadap pendekatan corpu bisa dipastikan akan melumpuhkan aktivitas pembelajaran yang justru mengandalkan focus & lokusnya dominan pada unit sektoral tersebut.

Ketiga, Komitmen dan aksi keberpihakan yang nyata dan selaras dari para pucuk kepemimpinan (elites) dalam aktivasi ASN corpu menjadi esensial, terutama pada birokrasi paternalistik mekanistik. Kepemimpinan pembelajaran (learning leaderships) menjadi sangat penting dibangun, diinternalisasi dan dihabituasi oleh para elite, sehingga mereka tidak hanya sebagai role model dan sumber belajar utama, tapi juga menjadi agen pembaharu. Mewujudkan ini dengan cara pengarusutamaan kegiatan ASN corpu sebagai sasaran kinerja yang mandatory, misalnya melalui Academy of Learning Leadership and Management selama satu tahun bagi para top leaders. Tetapi ini dipastikan akan menggeliatkan mandeknya kepemimpinan pembelajaran yang selama ini lumrah terjadi di sektor publik.  

Keempat, budaya belajar dan manajemen pengetahuan harus tercipta, sebagaimana ditunjukkan oleh British Columbia Public Services, Canada dalam membangun corpu. Tantangannya adalah menciptakan atmosfir pembelajaran yang inspiratif/kondusif bagi para pegawai dengan berbagai cara formal/informal. Dengan iklim ini, organisasi dirasakan sebagai arena petualangan pembelajaran (learning adventures) yang menggairahkan pada pelaksanaan tugas pegawai. Manajemen pengetahuan yang berbasis digital harus diupayakan. Caranya adalah mengoleksi dan menambang data dan informasi terkait tugas organisasi. Selanjutnya mengkreasi, mengaplikasikan, memvalidasi dan menyimpan pengetahuan berbasis pengalaman personal dan praktek terbaik terutama yang sifatnya tacit knowledge sehingga menjadi pengetahuan kolektif organisasional yang dapat ditransfer dan diwariskan secara berkelanjutan.

Akhirnya, penting untuk memastikan penerapan ASN corpu memenuhi aspek elan vital kebekerjaannya sebagaimana digambarkan di atas. Ketidaktuntasan dan pendekatan setengah hati dalam penerapan aspek ini secara subtansial, struktural dan kultural akan sulit menghindarkan citra bahwa penugasan ASN Corpu dalam meningkatkan profesionalisme personil dan kinerja kelembagaan pemerintah – sebagaimana dikatakan Mark Allen, pakar corpu – hanyalah marketing gimmick. Sekedar mengikuti trend, tidak lebih dari itu.  

(pernah dimuat di harian Tribun Timur, Kolom OPINI tanggal 6 Juli 2020 hal. 15)