PERAN STRATEGIS BPSDM MENUJU BIROKRASI KELAS DUNIA
Oleh : Kaswadi Yudha Pamungkas- Widyaiswara Ahli Muda BPSDM Prov Sulsel

By Muharrir Mukhlis 26 Jul 2022, 16:11:23 WIB Artikel
PERAN STRATEGIS BPSDM MENUJU BIROKRASI KELAS DUNIA

Sebagian kalangan mungkin akan berasumsi, mengapa anggaran belanja daerah yang relatif besar namun tidak dibarengi oleh kualitas pelayanan publik yang memuaskan. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika ASN tidak dapat memberikan nilai tambah dan inovasi dalam peningkatan kinerja pemerintahan, disinilah pentingnya Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dan Unit Kepegawaian di setiap pemerintahan daerah untuk dapat berperan mewujudkan Corporate University, mengubah potensi ASN yang ada menjadi investasi sumber daya manusia aparatur yang bercirikan birokrasi kelas dunia yaitu profesional, percaya diri, multi skill dan otonom (Dwiyanto, 2015)

Peran strategis BPSDM itu adalah bertransformasi dari lembaga diklat semata menjadi corporate university. Meski masih sedikit yang mengenal apa itu corporate university, akan tetapi sejumlah perusahaan besar dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menerapkan sebagai strategi investasi SDM unggul diantaranya Pertamina, Wijaya Karya, BNI, Semen Indonesia, Garuda Indonesia, BCA, Citibank, Trakindo Utama, Pan Brothers, Holcim Indonesia, PLN, dan AIA Financial. Mereka memandang pegawai/ karyawan bukan sebagai beban perusahaan, tetapi sebagai asset investasi yang harus dikelola dan dikembangkan untuk optimalisasi dan pengembangan perusahaan. Fortune 500 Companies sebagai perusahaan yang telah mengimplementasikan dan mempertahankan Corporate University dengan sukses  (Dibtagroup : 2016) dimana perusahaan Indonesia yang masuk Fortune 500 adalah Pertamina yang masuk dalam ranking 122 pada tahun 2013 dan ranking 123 pada tahun 2014 dengan PLN menempati ranking 477 di tahun yang sama (Kementerian Keuangan Corporate University : 2016). Di Indonesia, konsep corporate university mulai diterima setelah tahun 2000. PT Telkom, dapat disebut sebagai pelopor dalam bidang ini. Memang, perusahaan-perusahaan yang termasuk BUMN paling semangat untuk menerapkan konsep corporate university ini. Selain PT Telkom, kita mengenal PLN Corporate University (milik PLN) dan juga IPC Corporate university (milik PT Pelindo II). (PPM, 2018)

Jamak diketahui, kualitas SDM berbanding lurus dengan kinerja / performance organisasi. Diperlukan peran BPSDM atau unit kepegawaian yang lebih besar dari sekedar menjadi training center. Badan diklat tidak lagi sekadar bersifat taktikal untuk memenuhi analisis kesenjangan kompetensi atau yang biasa dikenal dengan competence gap. Namun, harus diperluas sebagai strategic business partner untuk dapat membentuk SDM aparatur yang berpengetahuan serta terus mendorong mereka mengoptimalkan potensi yang dimilikinya melalui continuos learning. Pakar manajemen sumber daya manusia (SDM) menyarankan pembentukan corporate university yang sangat penting sebagai upaya untuk mencetak SDM yang bermutu dalam sebuah perusahaan. Meskipun biasanya perusahaan juga sering mengadakan pelatihan-pelatihan, tetapi pelatihan yang dilakukan selama ini masih kurang sistematis dan temanya selalu berubah.

Adalah hal mendasar dibangunnya corporate university untuk menolong organisasi mencapai misi-nya. Strategi membangun corporate university adalah strategi mencapai tujuan perusahaan. Corporate university memberikan nilai bagi organisasi (perusahaan) melalui kegiatan pembelajaran. Nilai tambah tersebut diciptakan dengan menyelaraskan strategi perusahaan dengan strategi corporate university.  Meski tidak mudah dan butuh waktu panjang, beberapa hal diperlukan dalam membentuk corporate university diantaranya ; Pertama, kurikulum. Konten kurikulum yang terdiri dari silabus dan mata kuliah terintegrasi dengan standarisasi yang jelas untuk setiap jenjang kedudukan dalam perusahaan serta memperhatikan aspek yang bersifat leadership managerial dan fungsional. Kedua, tersedianya modul dan materi pembelajaran yang bagus dan berkualitas. Ketiga, pengajar yang menarik serta berpengalaman. Keempat, tindak lanjut dan pemonitoran terhadap tugas-tugas yang diberikan kepada karyawan  serta mekanisme untuk memantau dampak pelatihan selama tiga sampai enam bulan ke depan untuk mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan. Layaknya perkuliahan pada umumnya, karyawan di corporate university juga harus membuat tugas akhir berupa project real sesuai kebutuhan perusahaan. Banyak perusahaan yang mengirimkan pegawainya secara parsial untuk mengikuti training yang didesain secara generik, seringkali tidak selaras dengan visi-misi perusahaan. Atau perusahaan yang punya komitmen tetapi tidak memiliki strategi yang jelas dan terarah sehingga training yang ditawarkan kepada pekerja sangat banyak, tapi tidak berdampak apa-apa.

Tidak jauh beda, saatnya mind set para pemimpin Organisasi Perangkat Daerah menelaah bahwa ASN harus dipandang sebagai asset organisasi (human capital). Mungkinpara pemimpin didaerah harus berpikir lebih diagonal seperti para pemimpin lingkup pusat kementerian dan lembaga seperti Kementerian Keuangan misalnya. Kemenkeu telah menerapkan corporate university dengan KLC atau Kemenkeu Learning Centre. Dimana diklat (dipandang) bukan sekedar membuat minuman botol tetapi juga bagaimana cara menjual minuman botol. Siapapun dapat belajar kapanpun tanpa meninggalkan tempat kerja dan waktu kerja. KLC telah memiliki 55 course online dan website www.KLC. Kemenkeu.go.id, serta 4 buah jurnal internasional. Keberhasilan ini layak ditiru. Lembaga diklat tidak hanya sebagai transfer materi/modul tetapi juga mampu menyemai alumni yang memiliki kemanfaatan terbesar dalam organisasi, dengan merespon perkembangan dan kebutuhan organisasi. Leader menjadi teacher. Membangun smart ASN yang setiap ASN harus dapat merespon perkembangan teknologi dan informasi dengan positif. Membangun visi bahwa ASN harus dapat bersikap adaptif terhadap teknologi agar kinerja pelayanan lebih cepat, akurat, dan efisi bukan hanya tanggungjawab pimpinan tetapi juga, sinergisitas lembaga sebagai pemantau, dimotori BPSDM dan Unit Kepegawaian di setiap pemerintahan daerah, Top manager menjadi pengajar dan pakar. Meskipun pembentukan corporate university tidak mudah, bermodalkan komitmen pimpinan dan keberanian (baca : nekat) namun juga  butuh dukungan stake holedr terkait termasuk dukungan dari pucuk pimpinan tertinggi di daerah, bukanlah langkah sulit untuk berinvestasi di SDM aparatur dalam menjadikan birokrasi kelas dunia.